Senin, 11 Desember 2017

Kita Perlu Duduk Sendiri

Duduk sendiri di sini bukan hanya sekedar duduk dengan pikiran kosong atau justru sekedar memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya dipikirkan. Tapi duduk sendiri di sini adalah merenungkan apa saja amal ibadah yang sudah kerjakan, tentu juga bukan seberapa banyak amalan yang kita kerjakan melainkan amalan apa saja yang sudah kita kerjakan dengan konsisten atau bahasa lainnya yakni dengan istiqomah.

Kita perlu memiliki amalan rahasia yang hanya diri kita saja yang mengetahui, termasuk merahasiakannya dari keluarga kita sendiri. Apakah antum pernah mendengar kisah tentang pelayan restoran di daerah makah atau madinah saya lupa tepatnya dimana, tapi ini kisah nyata yang saya ketahui dari buku Syekh Ali Jaber yang berjudul Cahaya Madinah. Di buku itu diceritakan bahwasannya ada seorang Syekh bermimpi bertemu Rasulullah SAW yang isi mimpinya Rasulllah menitipkan salam untuk si Pelayan Restoran bahwasanya dia dinantikan Rasulullah di Surga, mimpi itu hadir sampai tiga kali hingga akhirnya syekh tersebut memutuskun untuk mencari dan menemui pelayan restoran tersebut. Dalam mimpinya Rasulullah memberikan alamat lengkap dari pelayang restoran yang Rasulullah makzudkan.

Dalam bayangan syekh tersebut, si pelayan restoran itu adalah seseorang syekh yang benar-benar alim. Namun pada kenyataannya setelah diketemui sang syekh, penampilannya biasa saja dan dan dia bukan seorang syekh bahkan berhaji pun belum. Hingga sang syekh pun sempat bertanya sampai beberapakali untuk memastikan apakah dia adalah benar-benar orang yang Rasulullah makzudkan.
Ketika sang syekh menyampaikan pesan dari Rasulullah kepada pelayan restoran tersebut, seketika si pelayan restoran pinsan karena mendengar pesan dari Rasulullah SAW. Setelah pelayan itu tersadar dari pinsannya, Syekh bertanya “amalan apa yang ia kerjakan selama ini hingga ia ditunggu Rasulullah di Syurga yang padahal dia hanya seorang pelayan restoran biasa”. Si pelayan pun menjawab dengan syarat untuk merahasiakan identitas dari dirinya, ternyata amalan yang ia kerjakan adalah shodaqoh kepada anak-anak yatim dan orang-orang yang tidak mampu. Ia menyisihkan separuh dari  gajinya untuk mereka yang lebih membutuhkan dan tanpa sepengetahuan istri dan keluarganya. Masyaa Allah..


Semoga kita dapat memetik hikmah dari kisah nyata di atas, aamiin. (tidak cukup sekedar mengucap Aamiin namun perlu sekali untuk kita mengamalkannya.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membangun Barikade

Darah muda, darahnya para remaja begitu kata Bang Rhoma. pemuda itu biasanya dikenal karna ambisinya yang besar, absorbsinya yang tinggi, d...