Sabtu, 27 Januari 2018

Sebuah Pengalaman Hidup

Hai perkenalkan namaku Eno mantan aktivis pacaran, tapi itu dulu jaman aku masih duduk di bangku SMP. Aku memilih untuk pensiun dari dunia hura-hura, sebut saja pacaran meski pun hanya sebatas chat dengan dia atau pun hanya pulang sekolah bersama. Iya, jelas aktivitas itu sangat merugikan jika dilihat dari segi mana pun. Singkat cerita awal hijrah ku di mulai dari kelas 2 SMA, karena pada saat itulah aku mulai belajar agama di pondok pesantren. Dari yang dulunya memakai jilbab pendek bin transparan yang menjadi tebal nan panjang, dari yang urakan bak preman pasar menjadi sosok Putri Solo yang lemah gemulai (meski nggak gitu-gitu juga). Di pondok pesantren banyak sekali pengalaman dan juga ukhuwah yang sudah aku dapatkan. Di sana aku cukup terpandang di kalangan para santriwan atau pun santriwati begitu juga di mata asatidz dan asatidzah. Meski pun begitu, aku pernah melanggar aturan pondok seperti surat-menyurat dengan teman ikhwan yang kebetulan kami berdua satu kelas, tidak dapat dipungkiri ini bisa terjadi karena pondokku dulu meski dipisah namun kegiatan belajar berbarengan dalam satu kelas. Oh, rupanya hijrahku belum benar-benar tuntas. Meski kami tidak berpacaran, tetap itu melanggar aturan pondok mau pun aturan Allah Subhanahu Wata'ala karena ada unsur mendekati zina di dalamnya.

Hari berganti hari, tahun berganti tahun, Tidak terasa telah tiba saatnya penghujung dimana aktifasi untuk tinggal di penjara suci mulai menghitung bulan lagi. ujian sekolah pondok dan sekolah kejuruan (Farmasi) pun mulai diumumkan kapan untuk dilaksanakan. Aku tidak begitu menghawatirkan kedua ujian tersebut, karena dulu aku tergolong rajin belajar meski tidak ada ulangan harian pun. Singkat cerita dalam penantian kelulusan kedua ujian tersebut dengan ditambah ujian praktikum kejuruan Farmasi (UPK) yang biaya ujiannya tidak sedikit, sebut saja 3 juta lebih sekian-sekian. Ternyata aku yang begitu pede dalam menjalankan ujian tersebut bisa dinyatakan gagal. Sontak tangisku pecah sebelum pengumuman kelulusan diumumkan, karena berhasil menangkap kode kata-kata dari kepala sekolah maupun guru pembimbing ujian yang menyatakan aku tidak lulus UPK. Takdir Allah aku mendapat penguji yang cukup killer dan mendapat resep obat yang cukup rumit pembuatannya. Iya, dan akhirnya aku tersadar bahwa kegagalanku dalam ujian UPK yang telah terjadi 4 tahun lalu, bahwa dulu aku sempat merasa sombong walau hanya sekejab. Sombong karena aku pernah mendapat predikat murid tauladan sesekolahan, sombong karena menjadi murid terpandai yang bisa mengajarkan cara pembuatan mau pun perhitungan dalam mata pelajaran Farmasi, sombong karena beasiswa, sombong karena bisa dekat dengan semua guru SMK maupun ustadzah pondok, sombong karena disegani para santriwati. Oh Yaa Illahii Robbi, betapa hinanya diriku ini. Bertambahnya usiaku, aku mencoba sabar atas segala sesuatu yang telah terjadi pada diriku.

Mari pergi meninggalkan segudang kisah di pondokku, niat kuliah ? Sudah kupetakan universitas yang akan aku daftari. Tapi sudah lah lupakan, karena ayahku ingin aku masuk UGM. Iya, UGM tak pernah aku bermimpi untuk kuliah di sana. Salah satu universitas bergengsi di Indonesia, meskipun begitu jika memang ayahku menginginkannya, apa boleh buat. Anggap saja ini salah satu jalan bakti seorang anak kepada ayahnya bukan ?. Ketika itu aku mulai berfikir keras, bagaimana mungkin aku yang dari sekolah swasta tidak terkenal bisa masuk universitas itu. Aku pun memutar pikiran, ah iya.. aku akan berhenti satu tahun guna persiapan tes SBMPTN. Berapa juta sudah uang yang dikeluarkan ayahku untuk biaya bimbel yang cukup terkenal di Indinesia, tidak hanya itu aku pun mengikuti bimbel online. Saban hari aku belajar, menghabiskan berjam-jam di depan laptop dan di tempat bimbel. Dari mulai bangun tidur, aku bangun jam 2 malam untuk memohon pada Rabb-ku atas hajadku, dilanjutkan belajar hingga petang jam 22:00 malam. Aku pun paham akan diriku sendiri yang berambisi dalam hal apa pun, buktinya ketika itu aku menganggap makan, mandi, tidur itu tidak penting hanya karena ingin belajar dan terus belajar. Alhasil tubuhku yang semakin kurus dan kulitku yang semakin putih pucat karena jarang terkina paparan sinar matahari, jika pun keluar rumah hanya sekadar untuk belajar di bimbel dan lebih banyak menghabiskan waktu di depan leptop andalanku untuk menonton video-video pelajaran SMA karena di SMK tidak diajarkan matapelajaran kimia, fisika, matematika, bahasa indonesia, dan juga bahasa inggris secara mendetil sebagaimana diajarkannya kepada murid-murid SMA pada umumnya. Namun apa hasilnya ? Lagi-lagi aku gagal. Aku terdiam cukup lama, sudah lama sekali aku tidak bermedia sosial. Aku tutup akun facebook dan media sosial lainnya, teman-temanku hanya bisa dihubungi via sms ketika itu.

Niat untuk tidak mau kuliah selain di UGM pun ada, namun seribu sayang tekadku untuk menunda kuliah satu tahun lagi dulu sirna karena Ibuku tidak mengijinkan. Ibu menyuruhku untuk langsung mendaftar di salah satu universitas swasta di Solo. H-4 Iedul Fitri aku ke kota Solo seorang diri, baru kali itu aku pergi jauh seorang diri meninggalkan tempat tinggalku, Pekalongan. Air mataku berjatuhan saat Ibuku memaksaku untuk tetap mengambil jurusan Farmasi, ketika itu aku sedang beradi di Bus Trans Solo. Keputusanku untuk mengambil jurusan Pendidikan Matematika sudah bulat. Hari demi hari ku lewati, aku mulai mencoba untuk ikhlas menerima takdir Allah meski pun ini bukan yang aku inginkan. Masuk semester 2, entah mengapa aku yang dulu tidak pernah terfikirkan tentang menikah muda pun tiba-tiba fikiran itu muncul di benakku. Beraninya diriku mengajukan proposal taaruf, padahal ketika itu aku masih berusia belasan tahun, entah dari mana pemikiran itu. Dengan hati yang mantap, aku coba meminta ijin kepada Ibu dan Ayahku untuk menikah muda, namun tidak diijinkan. Oh..  baiklah aku akan menikah di semester 5 nanti, pikirku saat itu. Aku berusaha menyibukan diri dengan mengikuti berbagai berbagai organisasi. Oh iya aku bahagia, meski terkadang belum lupa dengan kampus inceranku dulu. Menjalani kuliah dengan setengah hati, ternyata aku hanya bahagia dengan organisasi yang aku ikuti. Hampir setiap hari berangkat ke kampus pukul 07:00 WIB dan tiba di kosan langit sudah gelap, menghabiskan waktu untuk kuliah, rapat organisasi, dan baca atau pun belajar di perpustakaan kampus. Hingga pada akhir 2015 aku jatuh sakit, 2 minggu lamanya aku tidak mengikuti matakuliah di kelas seperti biasa. Lebih dari 2 penyakit menggerogoti tubuhku kala itu, pikiranku tidak karuan. Sempat berfikiran bahwa usiaku tidak akan lama lagi. Badanku sakit, nafasku sesak, berjalan pun harus dipapah oleh orang lain, bahkan trombositku turun drastis menjadi 30.an juta yang padahal orang normal pada umumnya bisa mencapai 120.an juta. Dalam hatiku berkata, "Yaa Allah jangan ambil nyawaku terlebih dahulu, dosa-dosaku masih banyak dan amal ibadahku masih sedikit", dan hari-hariku diiringi dengan istighfar. Sungguh takut sekali aku pada waktu itu.

Alhamdulillah, Allah mengabulkan doaku. Aku sudah sehat sampai dengan jari-jariku mengetik cerita ini. Masuk semester 4, keinginan untuk menikah muncul kembali. Lagi-lagi aku nekat untuk mengikuti taaruf online di Instagram, meski ada rasa khawatir jikalau nanti ternyata aku mendapati ikhwan abal-abal. Hampir 20.an lebih ikhwan/laki-laki yang mengirim direct message ke akun instagramku, mereka aku arahkan supaya mengirimkan curiculum vitae secara lengkap ke whatsapp atau pun ke emailku. Ada yang serius tapi tidak jarang juga yang hanya modal dusta alias modus, namun kenyataannya belum ada laki-laki yang aku terima. Bukan karena apa-apa, hanya saja belum ada visi dari salah satu mereka yang cocok dengan visiku. Aku memutuskan untuk berhenti dalam pencarian siapa jodohku nanti, aku mulai menghafal quran, maklumlah pondokku dulu program tahfidz tidak begitu berjalan dan aku juga mualai mengikuti kajian islami di dalam kampus mau pun di luar kampus. Aku mulai menikmati kuliah di kampusku dan juga mulai mempersiapkan bekal ilmu sebelum menikah; dari membaca buku-buku islami dan juga menonton kajian di youtube.

Di akhir semester 4 tepat bulan Agustus, Ada laki-laki yang berniat untuk bertukar CV denganku. Ada rasa senang di hati karena pada akhirnya aku menemukan laki-laki yang visi hidupnya sama dengan visi hidupku. Tapi tunggu dulu, sepertinya aku tidak cocok jika nanti bisa menjadi pendamping hidupnya. Ah yahsudah tidak mengapa, dicoba dulu toh ini masih proses pengenalan. Kami taaruf dikoordinatori oleh ustadzahku atau dalam bahasa islaminya murobi. Sebut saja namanya Abdullah, mas Abdullah ini seorang mahasiswa S2 Sastra Arab di salah satu universitas negri di Jogja, dia seorang penghafal Al-quran. Sedari SMP hingga SMA dibesarkan di pondok pesantren dekat dengan kampusku. Tidak diragukan lagi bagaimana bacaan qurannya, karena dalam CV nya tertera bahwa dia pernah menjuarai murotal juz 30 di Masjid Agung Surakarta. Ah.. rasanya aku seperti sedang bermimpi di siang bolong, namun lagi-lagi aku seperti ditampar petir karena ternyata mas Abdullah membatalkan proses taarufku dengannya. Hay Eno.. sudahlah kamu menikah dengan laki-laki yang derajadnya setara denganmu saja, kataku dalam hati, guna untuk menenangkan diriku. Tidak dapat dipungkiri ada rasa sedih dalam hati, sempat aku berdiam diri dalam beberapa hari karena baru kali ini ada laki-laki yang membatalkan proses taaruf denganku. Aku berusaha melupakan mas Abdullah dengan menganggap aku dengan dia tidak pernah bertaaruf, meski pun itu sulit bagiku.

Yang sudah terjadi, biarlah sudah, lagi-lagi aku berusaha bersabar. Beralih dari kisah taarufku dengan mas Abdullah, sering sekali aku mendengarkan ceramah-ceramah di youtube sebelum maupun sesudah aku kenal mas Abdullah. Salah satu ustadz favoritku adalah ustadz Adi Hidayat dan ustadz Hanan Attaki, pada suatu ketika aku mendengarkan ceramah ustadz Hanan, beliau memaparkan sebuah kisah menakjubkan tentang kekuatan 'Istighfar', keajaiban dari Allah yang mempertemukan seorang pembuat roti dengan Imam Ahmad di kota Bashrah. Intinya ketika seseorang memperbanyak istighfar, maka Allah akan kabulkan permintaan seseorang tersebut sebelum ia meminta. Selain itu aku mengamalkan dzikir seperti kalimat "Laa Hawlaa Walaa Quwwataa Illabillaah", tiada daya dan upaya kecuali kekuatan dari Allah subhanahu wata'ala. Dengan harapan seperti Allah mengabulkan doa-doa pembuat roti ketika ingin bertemu dengan Imam Ahmad dan ketika seorang anak dari seorang yang tidak mampu yang ditawan oleh orang-orang musrik, kira-kira sebanyak 200.an juta jika dijadikan mata uang Indonesia.

Di bulan September setelah aku berusaha untuk bisa melupakan mas Abdullah, datanglah laki-laki lain yang lebih mapan dan juga baik agamanya datang meminta bertukar Cv denganku.  Aku sudah utarakan prihal ini kepada kedua orang tuaku, mereka pun setuju jika Januari 2018 nanti laki-laki itu akan datang ke rumahku. Namun hatiku kembali diguncang karena pada bulan November mas Abdullah meminta bertukar Cv denganku untuk kedua kalinya. Saat itu hatiku benar-benar tidak karuan bagaikan anak SMA yang masih labil dalam urusan cinta. Tapi sungguh aku masih ada rasa kecenderungan pada mas Abdullah, dengan keras kepala aku membatalkan proses Nadzor dengan laki-laki mapan itu. Menuju ke proses Nadzorku bersama mas Abdullah, ternyata ayah mas Abdullah tidak menyetujui taarufanku dengan anaknya. Hanya karena Ibu dan Ayahku bekerja berjauhan, ibuku berjualan di pekalongan dan Ayahku bekerja merantau di Bogor. "Alasan macam apa ini ?, sama sekali tidak syar'i." Ah sudahlah mungkin ini sudah jalan-Nya, hingga akhirnya kesedihanku hadir kembali. Hampir satu minggu entah mengapa lidahku enggan merasakan masakan yang biasa enak kumakan, tangisku pecah dalam tahajjud malamku. Satu bulan kemudian, Allah mempertemukanku dengan Ibu dari mas Abdullah di masjid yang biasa aku pengajian. Setelah beliau tau bahwa aku adalah orang yang pernah bertaaruf dengan anaknya, tak sungkan-sungkan beliau langsung memelukku dan menyampaikan sedikit kata-kata yang membuatku lebih 'legowo'. "Memang suami saya tidak menyetujui kamu dengan Abdullah anak saya nduk, tapi kita ndak pernah tau bagaimana takdir Allah ke depannya. Mungkin sekarang kamu dengan anak saya belum berjodoh, tapi nggak tau di masa mendatang kan nduk ?", jelas ibu mas Abdullah.

Setelah kejadian itu hari-hariku aku sibukan dengan menghafalkan Al-quran, kuliah, organisasi, kuliah, ikut kajian, baca buku, dan belajar menulis karena dengan itulah aku bisa lebih tenang dan lupa dengan mas Abdullah. Pada akhirnya sampai dengan saat ini aku masih bertahan dan berusaha untuk menetralkan perasaan hingga tidak memikirkan prihal menikah, selain itu aku juga memperbanyak ukhuwah dalam komunitas dakwah di luar kampus, Alhamdulillah ada banyak ibroh yang aku dapati dalam kejadian ini yang salah satunya adalah bisa lebih dekat dengan Allah SWT.


Kamis, 25 Januari 2018

Alunan Doaku


Maafkan aku yg sering meminjam namamu, tanpa sepengetahuanmu Setiap malam sebelum datang fajar, Aku datang seorang diri, memulai dengan membasuh wajah hingga kedua kaki dengan air suci nan dingin, Kantuk pun berlarian menjauh pergi..

Kubentangkan kain indah di dalam mihrab yg sering aku singgahi, Saat itulah aku mulai berbincang-bincang dengan Rabb-ku,

Dialog batin, Alat yang kupakai karena aku pun tak punya telepati Iya, dengan alat itulah aku bisa dengan leluasa menyampaikan keluh kesah termasuk membincangkan namamu..

Dengan lirih tak terdengar,  Dengan bisik merdu, Ku sebut namamu. Sekali lagi, maafkan aku.. Aku yang terlihat tak perduli, Namun masih merintih memohonkan namamu atas inginku Hanya kepada Sang Pemilik Hatilah aku memohon dan meminta. Perkenalkan, akulah pemburu cinta di sujud panjang dalam malam yang sunyi.

 

Belum Lupa

Gemercik suara hujan yang indah
Aliran sungai niel yg merdu
Aku suka suara-suara alunan alam
Suara yang bisa membuatku meresa tentram
Tapi hanya sesaat

Jangan kau fikir aku sudah bisa melupakan, 
Entah ramuan apalagi yang harus kuminum.
Agar goresan ini cepat pulih seperti sediakala.
Aku sudah melakukan serangkaian ritual untuk bisa melupakan, namun semesta tidak berpihak padaku.
Kekuatan doaku yg cukup tajam namun tidak dengan kisah ini.

Sering aku termenung dengan keadaanku sekarang,
Aku berfikir apakah ini hanya sesaat atau akan terus berlanjut sampai aku benar-benar bisa menjadi manusia yg sabar.


Namun yang bisa kuyakini, 
Akan ada surprise indah dari tuhanku setelah epesode ini.
Kuharap semoga juga dengan episode kisahmu..

Masih Tertutup Rapat



Seekor keong punya cangkang,
Seekor landak punya duri,
Seekor kura-kura punya tempurung,
Begitu juga hati, bukankah hati juga memiliki sebuah penutup sebagaimana dengan keong, landak, dan juga kura-kura ?

Sebagaimana detik ini aku masih ingin menutup hati
Bukan karena trauma akan kisah yang pernah kurasa
Bukan juga karena takut jatuh untuk kedua kalinya
Kubiarkan detikku berlalu dengan jalan pikiranku
Terkadang masih terlintas dengan jelas akan kisah masa laluku denganmu

Kau tahu apa yang membuat kubertahan dengan tertutupnya hatiku ?
Iya, aku belum bisa menemukan sosok indah seperti dirimu..
Sulit sekali bagiku untuk bisa mencocokan hatiku dengan hati yang lainnya..
Kata-kata ibumu yang menjadikanku percaya diri dalam doa..
Ah, aku sungguh iri memiliki ibu seperti ibumu.

Jika nanti semesta berpihak padaku, untuk bisa memiliku ibu seperti ibumu.
Tak akan aku sia-siakan dirinya..
Sebagaimana aku tidak pernah menyia-nyiakan ibu kandungku..

Kau mengerti itu ?

#Puisi

Sabtu, 06 Januari 2018

Surat Untuk Bapak

Dear bapak tersayang,
doa-doaku selalu ada untukmu. maafkan anakmu ya, pak. yang masih sering membebanimu sampai saat ini.
pak, aku sedih ketika mendengar suara batukmu,
aku sedih melihat garis-garis keriput di wajahmu..
aku tidak pernah bercita-cita untuk jauh darimu, pak.
aku ingin seperti dulu, ketika aku masih duduk di sekolah dasar sepulang sekolah aku masih bisa menatap wajah bapak dan ibu, tapi aku sadar itu semua tidak akan mungkin. karna bapak harus mencari rizki di kampung orang demi menyekolahkanku dan juga adik2ku.

Bapakku yang kuat, sabar dan tegar...
aku tidak pernah melihat bapak menangis, meski aku tau ada banyak episode kehidupan yang menurutku sangat wajar jika bapak menangis.
aku masih ingat ketika bapak kecelakaan saat menuju ke tanah perantauan. ketahuilah pak, aku bersama tiara menangis bersamaan ketika membaca pesan singkat dari kantor polisi.
pak ketahuilah, aku menangis sejadi-jadinya ketika tau bapak di sana sendirian tidak ada yang membantu bekerja bahkan hanya sekedar memasak untuk bapak. tapi aku sekarang senang dan lega karena di sana sudah ada ibu yang siap siaga membantu bapak.
pak jaga kesehatanmu ya pak, aku tidak ingin melihat bapak sakit lagi.

Pak, aku tidak ingin berpisah denganmu..
pak aku tidak ingin hanya bisa berkumpul dengan bapak, ibu, adik, dan saudara2 lainnya di dunia saja, aku ingin kita berkumpul di Surga Allah nanti, pak.
pak sekarang ini aku sedang belajar menghafal Al-quran. karena dengan menghafalkannya, aku bisa mengajak 10 orang dari keluarga kita untuk bisa tinggal di Surga. Insyaa Allah begitu kata Sabda Rasulullah.
Pak doakan anakmu ya, agar bisa menjadi anak yg bermanfaat bagi orang banyak dan sukses dunia-akhirat.
pak sebenarnya aku malu mengirimkan kata-kata ini di beranda facebook bapak. wkwk
pak jangan lupa shalat tepat waktu dan tilawah Qur'an ya pak.. 

Membangun Barikade

Darah muda, darahnya para remaja begitu kata Bang Rhoma. pemuda itu biasanya dikenal karna ambisinya yang besar, absorbsinya yang tinggi, d...