
Hai
perkenalkan namaku Eno mantan aktivis pacaran, tapi itu dulu jaman aku masih
duduk di bangku SMP. Aku memilih untuk pensiun dari dunia hura-hura, sebut saja
pacaran meski pun hanya sebatas chat dengan dia atau pun hanya pulang sekolah bersama.
Iya, jelas aktivitas itu sangat merugikan jika dilihat dari segi mana pun.
Singkat cerita awal hijrah ku di mulai dari kelas 2 SMA, karena pada saat
itulah aku mulai belajar agama di pondok pesantren. Dari yang dulunya memakai
jilbab pendek bin transparan yang menjadi tebal nan panjang, dari yang urakan
bak preman pasar menjadi sosok Putri Solo yang lemah gemulai (meski nggak
gitu-gitu juga). Di pondok pesantren banyak sekali pengalaman dan juga ukhuwah
yang sudah aku dapatkan. Di sana aku cukup terpandang di kalangan para
santriwan atau pun santriwati begitu juga di mata asatidz dan asatidzah. Meski
pun begitu, aku pernah melanggar aturan pondok seperti surat-menyurat dengan
teman ikhwan yang kebetulan kami berdua satu kelas, tidak dapat dipungkiri ini
bisa terjadi karena pondokku dulu meski dipisah namun kegiatan belajar
berbarengan dalam satu kelas. Oh, rupanya hijrahku belum benar-benar tuntas.
Meski kami tidak berpacaran, tetap itu melanggar aturan pondok mau pun aturan
Allah Subhanahu Wata'ala karena ada unsur mendekati zina di dalamnya.
Hari
berganti hari, tahun berganti tahun, Tidak terasa telah tiba saatnya penghujung
dimana aktifasi untuk tinggal di penjara suci mulai menghitung bulan lagi.
ujian sekolah pondok dan sekolah kejuruan (Farmasi) pun mulai diumumkan kapan
untuk dilaksanakan. Aku tidak begitu menghawatirkan kedua ujian tersebut,
karena dulu aku tergolong rajin belajar meski tidak ada ulangan harian pun.
Singkat cerita dalam penantian kelulusan kedua ujian tersebut dengan ditambah ujian
praktikum kejuruan Farmasi (UPK) yang biaya ujiannya tidak sedikit, sebut saja
3 juta lebih sekian-sekian. Ternyata aku yang begitu pede dalam menjalankan
ujian tersebut bisa dinyatakan gagal. Sontak tangisku pecah sebelum pengumuman
kelulusan diumumkan, karena berhasil menangkap kode kata-kata dari kepala
sekolah maupun guru pembimbing ujian yang menyatakan aku tidak lulus UPK.
Takdir Allah aku mendapat penguji yang cukup killer dan mendapat resep obat
yang cukup rumit pembuatannya. Iya, dan akhirnya aku tersadar bahwa kegagalanku
dalam ujian UPK yang telah terjadi 4 tahun lalu, bahwa dulu aku sempat merasa
sombong walau hanya sekejab. Sombong karena aku pernah mendapat predikat murid
tauladan sesekolahan, sombong karena menjadi murid terpandai yang bisa
mengajarkan cara pembuatan mau pun perhitungan dalam mata pelajaran Farmasi,
sombong karena beasiswa, sombong karena bisa dekat dengan semua guru SMK maupun
ustadzah pondok, sombong karena disegani para santriwati. Oh Yaa Illahii Robbi,
betapa hinanya diriku ini. Bertambahnya usiaku, aku mencoba sabar atas segala
sesuatu yang telah terjadi pada diriku.
Mari
pergi meninggalkan segudang kisah di pondokku, niat kuliah ? Sudah kupetakan
universitas yang akan aku daftari. Tapi sudah lah lupakan, karena ayahku ingin
aku masuk UGM. Iya, UGM tak pernah aku bermimpi untuk kuliah di sana. Salah
satu universitas bergengsi di Indonesia, meskipun begitu jika memang ayahku
menginginkannya, apa boleh buat. Anggap saja ini salah satu jalan bakti seorang
anak kepada ayahnya bukan ?. Ketika itu aku mulai berfikir keras, bagaimana
mungkin aku yang dari sekolah swasta tidak terkenal bisa masuk universitas itu.
Aku pun memutar pikiran, ah iya.. aku akan berhenti satu tahun guna persiapan
tes SBMPTN. Berapa juta sudah uang yang dikeluarkan ayahku untuk biaya bimbel
yang cukup terkenal di Indinesia, tidak hanya itu aku pun mengikuti bimbel
online. Saban hari aku belajar, menghabiskan berjam-jam di depan laptop dan di
tempat bimbel. Dari mulai bangun tidur, aku bangun jam 2 malam untuk memohon
pada Rabb-ku atas hajadku, dilanjutkan belajar hingga petang jam 22:00 malam.
Aku pun paham akan diriku sendiri yang berambisi dalam hal apa pun, buktinya
ketika itu aku menganggap makan, mandi, tidur itu tidak penting hanya karena
ingin belajar dan terus belajar. Alhasil tubuhku yang semakin kurus dan kulitku
yang semakin putih pucat karena jarang terkina paparan sinar matahari, jika pun
keluar rumah hanya sekadar untuk belajar di bimbel dan lebih banyak
menghabiskan waktu di depan leptop andalanku untuk menonton video-video
pelajaran SMA karena di SMK tidak diajarkan matapelajaran kimia, fisika,
matematika, bahasa indonesia, dan juga bahasa inggris secara mendetil
sebagaimana diajarkannya kepada murid-murid SMA pada umumnya. Namun apa hasilnya
? Lagi-lagi aku gagal. Aku terdiam cukup lama, sudah lama sekali aku tidak
bermedia sosial. Aku tutup akun facebook dan media sosial lainnya,
teman-temanku hanya bisa dihubungi via sms ketika itu.
Niat
untuk tidak mau kuliah selain di UGM pun ada, namun seribu sayang tekadku untuk
menunda kuliah satu tahun lagi dulu sirna karena Ibuku tidak mengijinkan. Ibu
menyuruhku untuk langsung mendaftar di salah satu universitas swasta di Solo.
H-4 Iedul Fitri aku ke kota Solo seorang diri, baru kali itu aku pergi jauh
seorang diri meninggalkan tempat tinggalku, Pekalongan. Air mataku berjatuhan
saat Ibuku memaksaku untuk tetap mengambil jurusan Farmasi, ketika itu aku
sedang beradi di Bus Trans Solo. Keputusanku untuk mengambil jurusan Pendidikan
Matematika sudah bulat. Hari demi hari ku lewati, aku mulai mencoba untuk
ikhlas menerima takdir Allah meski pun ini bukan yang aku inginkan. Masuk
semester 2, entah mengapa aku yang dulu tidak pernah terfikirkan tentang
menikah muda pun tiba-tiba fikiran itu muncul di benakku. Beraninya diriku
mengajukan proposal taaruf, padahal ketika itu aku masih berusia belasan tahun,
entah dari mana pemikiran itu. Dengan hati yang mantap, aku coba meminta ijin
kepada Ibu dan Ayahku untuk menikah muda, namun tidak diijinkan. Oh.. baiklah aku akan menikah di semester 5 nanti,
pikirku saat itu. Aku berusaha menyibukan diri dengan mengikuti berbagai
berbagai organisasi. Oh iya aku bahagia, meski terkadang belum lupa dengan
kampus inceranku dulu. Menjalani kuliah dengan setengah hati, ternyata aku
hanya bahagia dengan organisasi yang aku ikuti. Hampir setiap hari berangkat ke
kampus pukul 07:00 WIB dan tiba di kosan langit sudah gelap, menghabiskan waktu
untuk kuliah, rapat organisasi, dan baca atau pun belajar di perpustakaan
kampus. Hingga pada akhir 2015 aku jatuh sakit, 2 minggu lamanya aku tidak
mengikuti matakuliah di kelas seperti biasa. Lebih dari 2 penyakit menggerogoti
tubuhku kala itu, pikiranku tidak karuan. Sempat berfikiran bahwa usiaku tidak
akan lama lagi. Badanku sakit, nafasku sesak, berjalan pun harus dipapah oleh
orang lain, bahkan trombositku turun drastis menjadi 30.an juta yang padahal
orang normal pada umumnya bisa mencapai 120.an juta. Dalam hatiku berkata,
"Yaa Allah jangan ambil nyawaku terlebih dahulu, dosa-dosaku masih banyak
dan amal ibadahku masih sedikit", dan hari-hariku diiringi dengan
istighfar. Sungguh takut sekali aku pada waktu itu.
Alhamdulillah,
Allah mengabulkan doaku. Aku sudah sehat sampai dengan jari-jariku mengetik
cerita ini. Masuk semester 4, keinginan untuk menikah muncul kembali. Lagi-lagi
aku nekat untuk mengikuti taaruf online di Instagram, meski ada rasa khawatir
jikalau nanti ternyata aku mendapati ikhwan abal-abal. Hampir 20.an lebih
ikhwan/laki-laki yang mengirim direct message ke akun instagramku, mereka aku
arahkan supaya mengirimkan curiculum vitae secara lengkap ke whatsapp atau pun
ke emailku. Ada yang serius tapi tidak jarang juga yang hanya modal dusta alias
modus, namun kenyataannya belum ada laki-laki yang aku terima. Bukan karena apa-apa,
hanya saja belum ada visi dari salah satu mereka yang cocok dengan visiku. Aku
memutuskan untuk berhenti dalam pencarian siapa jodohku nanti, aku mulai
menghafal quran, maklumlah pondokku dulu program tahfidz tidak begitu berjalan
dan aku juga mualai mengikuti kajian islami di dalam kampus mau pun di luar
kampus. Aku mulai menikmati kuliah di kampusku dan juga mulai mempersiapkan
bekal ilmu sebelum menikah; dari membaca buku-buku islami dan juga menonton
kajian di youtube.
Di
akhir semester 4 tepat bulan Agustus, Ada laki-laki yang berniat untuk bertukar
CV denganku. Ada rasa senang di hati karena pada akhirnya aku menemukan
laki-laki yang visi hidupnya sama dengan visi hidupku. Tapi tunggu dulu,
sepertinya aku tidak cocok jika nanti bisa menjadi pendamping hidupnya. Ah
yahsudah tidak mengapa, dicoba dulu toh ini masih proses pengenalan. Kami
taaruf dikoordinatori oleh ustadzahku atau dalam bahasa islaminya murobi. Sebut
saja namanya Abdullah, mas Abdullah ini seorang mahasiswa S2 Sastra Arab di
salah satu universitas negri di Jogja, dia seorang penghafal Al-quran. Sedari
SMP hingga SMA dibesarkan di pondok pesantren dekat dengan kampusku. Tidak
diragukan lagi bagaimana bacaan qurannya, karena dalam CV nya tertera bahwa dia
pernah menjuarai murotal juz 30 di Masjid Agung Surakarta. Ah.. rasanya aku
seperti sedang bermimpi di siang bolong, namun lagi-lagi aku seperti ditampar
petir karena ternyata mas Abdullah membatalkan proses taarufku dengannya. Hay
Eno.. sudahlah kamu menikah dengan laki-laki yang derajadnya setara denganmu
saja, kataku dalam hati, guna untuk menenangkan diriku. Tidak dapat dipungkiri
ada rasa sedih dalam hati, sempat aku berdiam diri dalam beberapa hari karena
baru kali ini ada laki-laki yang membatalkan proses taaruf denganku. Aku berusaha
melupakan mas Abdullah dengan menganggap aku dengan dia tidak pernah bertaaruf,
meski pun itu sulit bagiku.
Yang
sudah terjadi, biarlah sudah, lagi-lagi aku berusaha bersabar. Beralih dari
kisah taarufku dengan mas Abdullah, sering sekali aku mendengarkan
ceramah-ceramah di youtube sebelum maupun sesudah aku kenal mas Abdullah. Salah
satu ustadz favoritku adalah ustadz Adi Hidayat dan ustadz Hanan Attaki, pada
suatu ketika aku mendengarkan ceramah ustadz Hanan, beliau memaparkan sebuah
kisah menakjubkan tentang kekuatan 'Istighfar', keajaiban dari Allah yang
mempertemukan seorang pembuat roti dengan Imam Ahmad di kota Bashrah. Intinya
ketika seseorang memperbanyak istighfar, maka Allah akan kabulkan permintaan
seseorang tersebut sebelum ia meminta. Selain itu aku mengamalkan dzikir
seperti kalimat "Laa Hawlaa Walaa Quwwataa Illabillaah", tiada daya
dan upaya kecuali kekuatan dari Allah subhanahu wata'ala. Dengan harapan
seperti Allah mengabulkan doa-doa pembuat roti ketika ingin bertemu dengan Imam
Ahmad dan ketika seorang anak dari seorang yang tidak mampu yang ditawan oleh
orang-orang musrik, kira-kira sebanyak 200.an juta jika dijadikan mata uang
Indonesia.
Di
bulan September setelah aku berusaha untuk bisa melupakan mas Abdullah,
datanglah laki-laki lain yang lebih mapan dan juga baik agamanya datang meminta
bertukar Cv denganku. Aku sudah utarakan
prihal ini kepada kedua orang tuaku, mereka pun setuju jika Januari 2018 nanti
laki-laki itu akan datang ke rumahku. Namun hatiku kembali diguncang karena
pada bulan November mas Abdullah meminta bertukar Cv denganku untuk kedua
kalinya. Saat itu hatiku benar-benar tidak karuan bagaikan anak SMA yang masih
labil dalam urusan cinta. Tapi sungguh aku masih ada rasa kecenderungan pada
mas Abdullah, dengan keras kepala aku membatalkan proses Nadzor dengan
laki-laki mapan itu. Menuju ke proses Nadzorku bersama mas Abdullah, ternyata
ayah mas Abdullah tidak menyetujui taarufanku dengan anaknya. Hanya karena Ibu
dan Ayahku bekerja berjauhan, ibuku berjualan di pekalongan dan Ayahku bekerja
merantau di Bogor. "Alasan macam apa ini ?, sama sekali tidak
syar'i." Ah sudahlah mungkin ini sudah jalan-Nya, hingga akhirnya
kesedihanku hadir kembali. Hampir satu minggu entah mengapa lidahku enggan
merasakan masakan yang biasa enak kumakan, tangisku pecah dalam tahajjud
malamku. Satu bulan kemudian, Allah mempertemukanku dengan Ibu dari mas Abdullah
di masjid yang biasa aku pengajian. Setelah beliau tau bahwa aku adalah orang
yang pernah bertaaruf dengan anaknya, tak sungkan-sungkan beliau langsung
memelukku dan menyampaikan sedikit kata-kata yang membuatku lebih 'legowo'.
"Memang suami saya tidak menyetujui kamu dengan Abdullah anak saya nduk,
tapi kita ndak pernah tau bagaimana takdir Allah ke depannya. Mungkin sekarang
kamu dengan anak saya belum berjodoh, tapi nggak tau di masa mendatang kan nduk
?", jelas ibu mas Abdullah.
Setelah
kejadian itu hari-hariku aku sibukan dengan menghafalkan Al-quran, kuliah, organisasi, kuliah, ikut kajian, baca buku, dan belajar menulis karena
dengan itulah aku bisa lebih tenang dan lupa dengan mas Abdullah. Pada akhirnya
sampai dengan saat ini aku masih bertahan dan berusaha untuk menetralkan
perasaan hingga tidak memikirkan prihal menikah, selain itu aku juga
memperbanyak ukhuwah dalam komunitas dakwah di luar kampus, Alhamdulillah ada
banyak ibroh yang aku dapati dalam kejadian ini yang salah satunya adalah bisa
lebih dekat dengan Allah SWT.